Selasa, 14 Oktober 2014

Materi Perkembangan Bahasa




PERKEMBANGAN BAHASA
Bahasa merupakan kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Dalam pengertian ini, tercakup semua cara untuk berkomunikasi, dimana pikiran dan perasaan dinyatakan dalam bentuk lambang atau simbol untuk mengungkapkan sesuatu pengertian seperti dengan menggunakan lisan, tulisan,isyarat,bilangan,lukisan,dan mimik wajah.
Bahasa merupakan faktor hakiki yang membedakan manusia dengan hewan.Bahasa sebagai merupakan anugerah dari Allah swt yang dengannya manusia dapat mengenal atau memahami dirinya sesama manusia,alam,dan penciptanya serta mampu memposisikan dirinya sebagai makhluk berbudaya dan mengembangkan budayanya.
Bahasa sangat erat  kaitannya dengan perkembangan berfikir individu. Perkembngan pikiran individu tampak dalam perkembangan bahasanya yaitu kemampuan membentuk pengertian ,menyusun pendapat,dan menarik kesimpulan.
Perkembangan fikiran itu dimulai pada usia1,6-2,0 tahun yaitu pada saat anak dapat menyusun kalimat 2 atau 3 kata laju perkemnbangannya itu sebagai berikut:
a.       Usia 1,6 tahun anak dapat menyusun pendapat positif seperti”bapak
b.      makan”
c.       Usia 2,6 tahun anak dapat menyusun pendapat negatif (menyangkal) seperti”bapak tidak makan”
d.      Pada usia selanjutnya anak dapat menyusun pendapat
1.kritikan :”ini tidak boleh,ini tidak baik”
2.keragu-raguan :barangkali,mungkin,bisa jadi.ini terjadi apabila anak sudah menyadari akan kemungkinan ke kehilafannya
3.menarik kesimpulan analogi,seperti:anak melihat ayahnya tidur karena sakit,pada waktu lain anak melihat ibunya tidur,dia mengatakan bahwa ibu tidur karena sakit.


TUGAS-TUGAS PERKEMBANGAN BAHASA
            Dalam berbahasa anak di tuntut untuk menuntaskan atau menguasai 4 tugas pokok yang satu sama lainya saling berkaitan. Keempat tugas itu adalah :
1.      Pemahaman yaitu kemmpuan memahami makna ucapan orang lain
2.       Pengembangan perbendaharaan kata. perbendaharaan kata-kata anak berkembang dimulai secara lambat pada usia 2 tahun pertama
3.      Penyusunan kata-kata menjadi kalimat,kemampuan menyusun kata-kata menjadi kalmat pada umumnya berkembang sebelum usia 2 tahun
4.      Ucapan.kemampuan mengucapkan kata-kata merupakan hasil belajar melalui imitasi (peniruan) terhadap suara-suara yang di dengar anak dari orang lain (terutama orang tuanya)


TIPE PERKEMBANGAN BAHASA

Ada dua tipe perkembangan bahasa anak yaitu;
1. Egocentric speech yaitu anak berbicara pada dirinya sendiri (monolog). berfungsi   untuk mengembangkan kemampuan berfikir anak yang pada umumnya dilakukan oleh anak berusia 2-3 tahun.
2 .Socialized speech yaitu yang terjadi ketika berlangsung kontak antara anak dengan temannya atau lingkungannya.berfungsi mengembangkan kemampuan penyesuain sosial.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN BAHASA ANAK:

Perkembangan bahasa di pengaruhi oleh faktor-faktor kesehatan,intelegensi,status sosial ekonomi,jenis kelamin dan hubungan keluarga.

1.faktor kesehatan.
        Kesehatan merupakan faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa anak terutama pada usia awal kehidupannya
2. intelegensi
Perkembangan bahasa anak dapat di lihat dari tingkat intelegensinya.anak yang perkembangan bahasanya cepat,pada umumnya mempunyai intelegensi normal atau di atas normal
3. Status sosial ekonomi keluarga
        Berapa studi tentang hubungan antara perkembangn bahasa dengan status sosial ekonomi keluarga menunjukkan bahwa anak yang dari keluarga miskin mengalami kelambatan dalam perkembangan bahasanya di bandingkan dengan anak yang berasal dari keluarga yang lebih baik
4. Jenis kelamin
             Pada tahun pertama usia anak tidak ada perbedaan dalam vokalisasi antara pria dan wanita namun mulai usia 2 tahun anak wanita menunjukkan perkembangan yang lebih cepat dari pada anak pria.
5. Hubungan keluarga
             Hubungan ini di maknai sebagai proses pengalaman berinteraksi dan berkomunikasi dengan keluarga terutama dengan orang tua dengan mengajar,melatih dan memberikan contoh berbahasa kepada anak.
           





Daftar pustaka

Ahmadi,abu,dkk.psikologi perkembangan.Jakarta: Raneka cipta. 2005.
Yusuf,syamsul.psikologi perkembangan. Bandung: Remaja Rosdakarya. 2005

Teori Belajar sosiokultural "vygotsky"

   
     

Teori Belajar Sosiokultural ( vygotsky)
11.     Teori  belajar sosiokultural
a.      Definisi Teori Belajar Menurut vygotsky
Psikolog dari Rusia Lev Vygotsky  memberikan pemikirannya dalam hal teori sosiokultural. Vygotsky menjelaskan dalam tulisannya pada tahun 1920-an dan 1930-an menekankan bagaimana interaksi anak dengan orang dewasa memberikan sumbangan terhadap perkembangan keterampilan. Menurut Vygotsky, orang dewasa yang sensitif memperhatikan kesiapan anak untuk tantangan baru, dan mereka menyusun kegiatan yang tepat untuk membantu anak-anak mengembangkan keterampilan baru. Orang dewasa berperan sebagai mentor dan guru, mengarahkan anak ke dalam zone of proximal development – istilah Vygotsky untuk rentang keterampilan yang tidak dapat dilakukan anak sendiri tanpa bantuan orang dewasa yang ahli. Orang tua dapat mendorong konsep angka sederhana, misalnya dengan menghitung bibit biji kakau dengan anak-anak atau menakar beras untuk dimasak bersama, dan mengisi angka yang tidak diingat anak. Saat anak berpartisipasi pada pengalaman semacam itu sehari-hari dengan orang tua, guru, dan orang lain, mereka secara bertahap belajar praktek, keterampilan, dan nilai kebudayaan (Trianto, 2008:67).
 Lev Vygotsky yang wafat pada usia muda (38 tahun, pada 1934) sudah sangat menyumbangkan pemikirannya khususnya dalam bidang kognitifisme sosial di antaranya:
a.       Proses mental kompleks mulai sebagai kegiatan sosial; sebagaimana anak berkembang, anak secara bertahap menginternalisasi proses ini dan dapat menggunakannya secara mandiri pada lingkungan di sekelilingnya.
b.      Berpikir dan bahasa awalnya masing-masing berkembang secara mandiri, keduanya menjadi mandiri saat anak berusia sekitar dua tahun.
c.       Anak dapat menyelesaikan tugas yang lebih sulit saat mereka mendapat bantuan dari orang yang lebih dewasa dan komponen dari diri mereka.
d.      Tugas-tugas di dalam perkembangan zona proksimal meningkatkan pertumbuhan kognitif maksimum.

        
  Bila Vygotsky menekankan pengaruh orang dewasa dalam pembelajaran, Albert Bandura (2006, dalam Santrock, 2009:323) menekankan bahwa pengaruh antara pengalaman lingkungan dan perilaku sangat penting, ketika siswa belajar,mereka secara kognitif dapat mewakili atau mengubah pengalaman mereka. Selanjutnya Bandura mengembangkan sebuah model determinisme timbal-balik yang terdiri atas tiga faktor utama yaitu, perilaku, lingkungan, dan orang/kognitif. Faktor-faktor lingkungan memengaruhi perilaku, perilaku memengaruhi lingkungan, faktor orang (kognitif) memengaruhi perilaku, dan seterusnya. Faktor-faktor kognitif meliputi, ekspektasi, keyakinan, sikap, strategi, pemikiran, dan intelegensi.     
                Teori belajar sosiokultur atau yang juga dikenal sebagai teori belajar kontruktivistik merupakan teori belajar yang titik tekan utamanya adalah pada bagaimana seseorang belajar dengan bantuan orang lain dalam suatu zona keterbatasan dirinya yaitu Zona Proksimal Development (ZPD) atau Zona Perkembangan Proksimal dan mediasi. Di mana anak dalam perkembangannya membutuhkan orang lain untuk memahami sesuatu dan memecahkan masalah yang dihadapinya.
              Teori yang juga disebut sebagai teori konstruksi sosial ini menekankan bahwa intelegensi manusia berasal dari masyarakat, lingkungan dan budayanya. Teori ini juga menegaskan bahwa perolehan kognitif individu terjadi pertama kali melalui interpersonal (interaksi dengan lingkungan sosial) intrapersonal (internalisasi yang terjadi dalam diri sendiri).
              Vygotsky berpendapat bahwa menggunakan alat berfikir akan menyebabkan terjadinya perkembangan kognitif dalam diri seseorang. Yuliani (2005: 44) secara spesifik menyimpulkan bahwa kegunaan alat berfikir menurut Vygotsky adalah :
1.    Membantu memecahkan masalah
Alat berfikir mampu membuat seseorang untuk memecahkan masalahnya. Kerangka berfikir yang terbentuklah yang mampu menentukan keputusan yang diambil oleh seseorang untuk menyelesaikan permasalahan hidupnya.
2.    Memudahkan dalam melakukan tindakan
Vygotsky berpendapat bahwa alat berfikirlah yang mampu membuat seseorang mampu memilih tindakan atau perbuatan yang seefektif dan seefisien mungkin untuk mencapai tujuan.
3.    Memperluas kemampuan
Melalui alat berfikir setiap individu mampu memperluas wawasan berfikir dengan berbagai aktivitas untuk mencari dan menemukan pengetahuan yang ada di sekitarnya.
4.    Melakukan sesuatu sesuai dengan kapasitas alaminya.
Semakin banyak stimulus yang diperoleh maka seseorang akan semakin intens menggunakan alat berfikirnya dan dia akan mampu melakukan sesuatu sesuai dengan kapasitasnya.

Inti dari teori belajar sosiokultur ini adalah penggunaan alat berfikir seseorang yang tidak dapat dilepaskan dari pengaruh lingkungan sosial budayanya. Lingkungan sosial budaya akan menyebabkan semakin kompleksnya kemampuan yang dimiliki oleh setiap individu.
Berdasarkan teori Vygotsky Yuliani (2005: 46) menyimpulkan beberapa hal yang perlu untuk diperhatikan dalam proses pembelajaran, yaitu :
1.      Dalam kegiatan pembelajaran hendaknya anak memperoleh kesempatan yang luas untuk mengembangkan zona perkembangan proksimalnya atau potensinya melalui belajar dan berkembang.
2.      Pembelajaran perlu dikaitkan dengan tingkat perkembangan potensialnya dari pada perkembangan aktualnya.
3.      Pembelajaran lebih diarahkan pada penggunaan strategi untuk mengembangkan kemampuan intermentalnya daripada kemampuan intramentalnya.
4.      Anak diberikan kesempatan yang luas untuk mengintegrasikan pengetahuan deklaratif yang telah dipelajarinya dengan pengetahuan prosedural untuk melakukan tugas-tugas dan memecahkan masalah
5.      Proses Belajar dan pembelajaran tidak sekedar bersifat transferal tetapi lebih merupakan konstruksi

Pada penerapan pembelajaran dengan teori belajar sosiokultur, guru berfungsi sebagai motivator yang memberikan rangsangan agar siswa aktif dan memiliki gairah untuk berfikir, fasilitator, yang membantu menunjukkan jalan keluar bila siswa menemukan hambatan dalam proses berfikir, menejer yang mengelola sumber belajar, serta sebagai rewarder yang memberikan penghargaan pada prestasi yang dicapai siswa, sehingga mampu meningkatkan motivasi yang lebih tinggi dari dalam diri siswa. Pada intinya, siswalah yang dapat menyelesaikan permasalahannya sendiri untuk membangun ilmu pengetahuan.
Dapat disimpulkan bahwa dalam teori belajar sosiokultur, proses belajar tidak dapat dipisahkan dari aksi (aktivitas) dan interaksi, karena persepsi dan aktivitas berjalan seiring secara dialogis. Belajar merupakan proses penciptaan makna sebagai hasil dari pemikiran individu melalui interaksi dalam suatu konteks sosial. Dalam hal ini, tidak ada perwujudan dari suatu kenyataan yang dapat dianggap lebih baik atau benar. Vygotsky percaya bahwa beragam perwujudan dari kenyataan digunakan untuk beragam tujuan dalam konteks yang berbeda- beda. Pengetahuan tidak dapat dipisahkan dari aktivitas di mana pengetahuan itu dikonstruksikan, dan di mana makna diciptakan, serta dari komunitas budaya di mana pengetahuan didiseminasikan dan diterapkan. Melalui aktivitas,interaksi sosial, tersebut penciptaan makna terjadi.

           Menurut  vygotsky  Jalan pikiran seseorang dapat dimengerti dengan cara menelusuri asal usul tindakan sadarnya dari interaksi sosial (aktivitas dan bahasa yang digunakan) yang dilatari sejarah hidupnya. Peningkatan fungsi-fungsi mental bukan berasal dari individu itu sendiri melainkan berasal dari kehidupan sosial atau kelompoknya.
             Kondisi sosial sebagai tempat penyebaran dan pertukaran pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai sosial budaya. Anak-anak memperoleh berbagai pengetahuan dan keterampilan melalui interaksi sehari-hari baik lingkungan sekolah maupun keluarganya secara aktif. Perolehan pengetahuan dan perkembangan kognitif sesuai dengan teori sosiogenesis yaitu kesadaran berinteraksi dengan lingkungan dimensi sosial yang bersifat primer dan demensi individual bersifat derivatif atau turunan dan sekunder, sehingga teori belajar Vygotsky disebut dengan pendekatan Co-Konstruktivisme artinya perkembangan kognitif seseorang disamping ditentukan oleh individu sendiri secara aktif, juga ditentukan oleh lingkungan sosialyangaktifpula.
             Menurut Vygotsky perkembangan kognisi seorang anak dapat terjadi melalui kolaborasi antar anggota dari satu generasi keluarga dengan yang lainnya. Perkembangan anak terjadi dalam budaya dan terus berkembang sepanjang hidupnya dengan berkolaborasi dengan yang lain. Dari perspektif ini para penganut aliran sosiokultural berpendapat bahwa sangatlah tidak mungkin menilai seseorang tanpa mempertimbangkan orang-orang penting di lingkungannya.



                      Banyak ahli psikologi perkembangan yang sepaham denga konsep yang diajukan Vygotsky. Teorinya yang menjelaskan tentang potret perkembangan manusia sebagai sesuatu yang tidak terpisahkan dari kegiatan-kegiatan sosial dan budaya. Ia menekankan bahwa proses-proses perkembangan mental seperti ingatan, perhatian, dan penalaran melibatkan pembelajaran dengan orang–orang yang ada di lingkungan sosialnya. Selain itu ia juga menekankan bagaimana anak-anak dibantu berkembang dengan bimbingan dari orang-orang yang sudah terampil di dalam bidang-bidang tersebut.
b.      KONSEP SOSIOKULTURAL
              Ada 3 konsep penting dalam teori sosiogenesis Vygotsky tentang perkembangan kognitif sesuai dengan revolusi sosiokoltural dalam teori belajar dan pembelajaran yaitu genetic law of development, zona of proximal development dan mediasi.
1. Hukum genetik tentang perkembangan (genetic law of development)
                 Menurut Vygotsky, setiap kemampuan seseorang akan tumbuh dan berkembang melewati dua tataran, yaitu interpsikologis atau intermental dan intrapsikologis atau intramental. Pandangan teori ini menempatkan intermental atau lingkungan sosial sebagai faktor primer dan konstitutif terhadap pembentukan pengetahuan serta perkembangan kognitif seseorang. Sedangkan fungsi intramental dipandang sebagai derivasi atau keturunan yang tumbuh atau terbentuk melalui penguasaan dan internalisasi terhadap proses-proses sosialtersebut.
2. Zona pekembangan proksimal (zone of proximal development)
                 Vygotsky membagi perkembangan proksimal (zone of proximal development) ke dalam dua tingkat:
1.      Tingkat perkembangan aktual yang tampak dari kemampuan seseorang untuk        menyelesaikan tugas-tugas atau memecahkan berbagai masalah secara mandiri (intramental).
2.       Tingkat perkembangan potensial tampak dari kemampuan seseorang untuk menyelesaikan tugas-tugas dan memecahkan masalah ketika dibawah bimbingan orang dewasa atau ketika berkolaborasi dengan teman sebaya yang lebih kompeten (intermental).

Jarak antara keduanya, yaitu tingkat perkembangan aktual dan tingkat perkembangan  potensial ini disebut zona perkembangan proksimal. Zona perkembangan proksimal diartikan sebagai fungsi-fungsi atau kemampuan-kemampuan yang belum matang yang masih berada dalam,proses,pematangan.
          3.Mediasi
                 Menurut Vygotsky, semua perbuatan atau proses psikologis yang khas manusiawi dimediasikan dengan psychologis tools atau alat-alat psikologis berupa bahasa, tanda dan lambang,atau,semiotika.
Ada dua jenis mediasi, yaitu:
1.      Mediasi  metakognitif adalah penggunaan alat-alat semiotik yang bertujuan untuk melakukan self- regulation yang meliputi: self planning, self monitoring, self checking, dan self evaluating. Mediasi metakognitif ini berkembang dalam komunikasi antar pribadi.
2.       Mediasi kognitif adalah penggunaan alat-alat kognitif untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan pengetahuan tertentu atau subject-domain problem.
Mediasi kognitif bisa berkaitan dengan konsep spontan (yang bisa salah) dan konsep ilmiah (yang lebih terjamin kebenarannya).
C. PENGARUH SOSIO-KULTURAL PADA PERKEMBANGAN KOGNISI
a.Pengaruh sosial pada perkembangan kognisi
               Menurut Vygotsky, anak adalah seorang eksplorer yang mempunyai rasa ingin tahu tinggi, sangat aktif dalam pembelajaran, selalu ingin menemukan sendiri, dan mengembangkan pemahaman baru. Namun demikian Vygostky lebih menekankan pada kontribusi sosial dalam proses perkembangan dan tidak melihat peranan besar dalam penemuan sendiri. Perkembangan pertama dalam lingkup sosial muncul dalam individu sebagai kategori interpsikological dan kemudian pada anak sebagai kategori intrapsikologikal. Contohnya adalah voluntary attention (perhatian otomatis), logical memory (memori logis), pembentukan konsep, dan perkembangan kemampuan memilih.
                 Vygostky berpendapat bahwa, pembelajaran pada anak terjadi melalui interaksi sosial dengan tutor yang lebih berpengalaman, Tutor ini menjadi model dalam berperilaku atau menyediakan instruksi verbal untuk anak. Model inilah yang disebut dengan dialog kooperatif atau kolaboratif. Anak mencari pemahaman perilaku atau instruksi dari tutor, menginternalisasi informasi dan menggunakannya untuk memformulasikan perilaku mereka.
b.Pengaruh Budaya pada perkembangan kognisi
  Vygotsky berpendapat bahwa perkembangan harus dilihat dari perspektif 4 tahap yang saling berhubungan dalam interaksi anak dengan lingkungan:
1.      Perkembangan Ontogenic, adalah perkembangan individu sepanjang hayat, digunakan oleh hampir semua ahli psikologi dalam menganalisa perkembangan manusia.
2.      Perkembangan Microgenic, mengacu pada perubahan yang terjadi pada waktu yang relatif singkat, misalnya perubahan yang dapat dilihat pada saat anak memecahkan masalah penjumlahan pada setiap minggunya selama 11 minggu (Siegler & Jenkins, 1989).
3.       Perkembangan Phylogenic adalah perubahan yang berskala evolusi, diukur dalam ribuan dan bahkan jutaan tahun. Vygostsky sendiri berpendapat bahwa untuk pemahaman sejarah spesies dapat memberikan masukan pada perkembangan anak.
4.      Perkembangan Sociohistorical, mengacu pada perubahan yang terjadi pada budaya, kepercayaan, norma, dan teknologi.
             Disini Vygotsky menekankan bagaimana seseorang berkembang dalam lingkungan yang berubah. Dengan berfokus pada individu atau pun pada lingkungan tidak cukup untuk menjelaskan mengenai perkembangan seseorang. Untuk itu perkembangan sebaiknya dipelajari dari konteks sosial dan budaya.
          Aplikasi teori sosio-kultural dalam pendidikan. Penerapan teori sosio-kultural dalam pendidikan dapat terjadi pada 3 jenis pendidikan yaitu:
a. Pendidikan informal (keluarga)
Pendidikan anak dimulai dari lingkungan keluarga, dimana anak pertama kali melihat, memahami, mendapatkan pengetahuan, sikap dari lingkungan keluarganya. Oleh karena itu perkembangan prilaku masing-masing anak akan berbeda manakala berasal dari keluarga yang berbeda, karena faktor yang mempengaruhi perkembangan anak dalam keluarga beragam, misalnya: tingkat pendidikan orang tua, faktor ekonomi keluarga, keharmonisan dalam keluarga dan sebagainya.

b. Pendidikan nonformal
Pendidikan nonformal yang berbasis budaya banyak bermunculan untuk memberikan pengetahuan, keterampilan, dan perilaku pada anak, misalnya kursus membatik. Pendidikan ini diberikan untuk membekali anak hal-hal tradisi yang berkembang di lingkungan sosial masyarakatnya.
c.Pendidikan formal
Aplikasi teori sosio-kultural pada pendidikan formal dapat dilihat dari beberapa segi antara lain:
1. Kurikulum
Khususnya untuk pendidikan di Indonesia pemberlakuan kurikulum pendidikan sesuai Peraturan Menteri nomor 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan KTSP, Peraturan Menteri nomor 23 tahun 2006 tentang standar kompetensi, dan Peraturan Menteri nomor 22 tahun 2006 tentang standar kompetensi dan kompetensi dasar, jelas bahwa pendidikan di Indonesia memberikan pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap kepada anak untuk mempelajari sosiokultural masyarakat Indonesia maupun masyarakat internasional melalui beberapa mata pelajaran yang telah ditetapkan, di antaranya: pendidikan kewarganegaraan, pengetahuan sosial, muatan lokal, kesenian, dan olah raga.
2. Siswa
Dalam pembelajaran KTSP anak mengalami pembelajaran secara langsung ataupun melalui rekaman. Oleh sebab itu, pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap bukan sesuatu yang verbal, tetapi anak mengalami pembelajaran secara langsung. Selain itu, pembelajaran memberikan kebebasan anak untuk berkembang sesuai bakat, minat, dan lingkungannya pencapaiannya sesuai standar kompetensi yang telah ditetapkan.
3. Guru
Guru bukanlah narasumber segala-galanya, tetapi dalam pembelajaran lebih berperanan sebagai fasilitator, mediator, motivator, evaluator, desainer pembelajaran dan tutor. Masih banyak peran yang lain, oleh karenanya dalam pembelajaran ini peran aktif siswa sangat diharapkan, sedangkan guru membantu perilaku siswa yang belum muncul secara mandiri dalam bentuk pengayaan dan remedial pembelajaran.




Berdasarkan teori Piaget, Vygotsky, dan Bandura akan diperoleh beberapa kelebihan dari teori sosiokultural, di antaranya:
a. Anak memperoleh kesempatan yang luas untuk mengembangkan zona perkembangan proximalnya atau potensinya melalui belajar dan berkembang;
b.  Pembelajaran perlu lebih dikaitkan dengan tingkat perkembangan potensialnya daripada tingkat perkembangan aktualnya;
c.   pembelajaran lebih diarahkan pada penggunaan strategi untuk mengembangkan kemampuan intermentalnya daripada kemampuan intramental;
d.   anak diberi kesempatan yang luas untuk mengintegrasikan pengetahuan deklaratif yang telah dipelajarinya dengan pengetahuan prosedural yang dapat dilakukan untuk tugas-tugas atau pemecahan masalah;
e.   proses belajar dan pembelajaran tidak bersifat transferal tetapi lebih merupakan kokonstruksi, yaitu proses mengkonstruksi pengetahuan atau makna baru secara bersama-sama antara semua pihak yang terlibat di dalamnya.\

Sedangkan kelemahan dari teori sosiokultural yaitu terbatas pada perilaku yang tampak, proses-proses belajar yang kurang tampak seperti pembentukan konsep, belajar dari berbagai sumber belajar, pemecahan masalah dan kemampuan berpikir sukar diamati.