Teori Belajar Sosiokultural (
vygotsky)
11.
Teori belajar sosiokultural
a. Definisi Teori Belajar Menurut vygotsky
Psikolog dari Rusia Lev Vygotsky memberikan pemikirannya dalam hal teori
sosiokultural. Vygotsky menjelaskan dalam tulisannya pada tahun 1920-an dan
1930-an menekankan bagaimana interaksi anak dengan orang dewasa memberikan
sumbangan terhadap perkembangan keterampilan. Menurut Vygotsky, orang dewasa
yang sensitif memperhatikan kesiapan anak untuk tantangan baru, dan mereka
menyusun kegiatan yang tepat untuk membantu anak-anak mengembangkan
keterampilan baru. Orang dewasa berperan sebagai mentor dan guru, mengarahkan
anak ke dalam zone of proximal development – istilah Vygotsky untuk
rentang keterampilan yang tidak dapat dilakukan anak sendiri tanpa bantuan
orang dewasa yang ahli. Orang tua dapat mendorong konsep angka sederhana,
misalnya dengan menghitung bibit biji kakau dengan anak-anak atau menakar beras
untuk dimasak bersama, dan mengisi angka yang tidak diingat anak. Saat anak
berpartisipasi pada pengalaman semacam itu sehari-hari dengan orang tua, guru,
dan orang lain, mereka secara bertahap belajar praktek, keterampilan, dan nilai
kebudayaan (Trianto, 2008:67).
Lev Vygotsky yang wafat pada usia muda (38
tahun, pada 1934) sudah sangat menyumbangkan pemikirannya khususnya dalam
bidang kognitifisme sosial di antaranya:
a.
Proses mental kompleks mulai sebagai kegiatan sosial;
sebagaimana anak berkembang, anak secara bertahap menginternalisasi proses ini
dan dapat menggunakannya secara mandiri pada lingkungan di sekelilingnya.
b.
Berpikir dan bahasa awalnya masing-masing berkembang
secara mandiri, keduanya menjadi mandiri saat anak berusia sekitar dua tahun.
c.
Anak dapat menyelesaikan tugas yang lebih sulit saat
mereka mendapat bantuan dari orang yang lebih dewasa dan komponen dari diri
mereka.
d.
Tugas-tugas di dalam perkembangan zona proksimal
meningkatkan pertumbuhan kognitif maksimum.
Bila Vygotsky menekankan
pengaruh orang dewasa dalam pembelajaran, Albert Bandura (2006, dalam Santrock,
2009:323) menekankan bahwa pengaruh antara pengalaman lingkungan dan perilaku
sangat penting, ketika siswa belajar,mereka secara kognitif dapat mewakili atau
mengubah pengalaman mereka. Selanjutnya Bandura mengembangkan sebuah model
determinisme timbal-balik yang terdiri atas tiga faktor utama yaitu,
perilaku, lingkungan, dan orang/kognitif. Faktor-faktor lingkungan memengaruhi
perilaku, perilaku memengaruhi lingkungan, faktor orang (kognitif) memengaruhi
perilaku, dan seterusnya. Faktor-faktor kognitif meliputi, ekspektasi,
keyakinan, sikap, strategi, pemikiran, dan intelegensi.
Teori belajar sosiokultur atau
yang juga dikenal sebagai teori belajar kontruktivistik merupakan teori belajar
yang titik tekan utamanya adalah pada bagaimana seseorang belajar dengan
bantuan orang lain dalam suatu zona keterbatasan dirinya yaitu Zona Proksimal
Development (ZPD) atau Zona Perkembangan Proksimal dan mediasi. Di mana anak
dalam perkembangannya membutuhkan orang lain untuk memahami sesuatu dan
memecahkan masalah yang dihadapinya.
Teori yang juga disebut sebagai
teori konstruksi sosial ini menekankan bahwa intelegensi manusia berasal dari
masyarakat, lingkungan dan budayanya. Teori ini juga menegaskan bahwa perolehan
kognitif individu terjadi pertama kali melalui interpersonal (interaksi dengan
lingkungan sosial) intrapersonal (internalisasi yang terjadi dalam diri
sendiri).
Vygotsky berpendapat
bahwa menggunakan alat berfikir akan menyebabkan terjadinya perkembangan
kognitif dalam diri seseorang. Yuliani (2005: 44) secara spesifik menyimpulkan
bahwa kegunaan alat berfikir menurut Vygotsky adalah :
1. Membantu
memecahkan masalah
Alat berfikir mampu membuat
seseorang untuk memecahkan masalahnya. Kerangka berfikir yang terbentuklah yang
mampu menentukan keputusan yang diambil oleh seseorang untuk menyelesaikan
permasalahan hidupnya.
2. Memudahkan
dalam melakukan tindakan
Vygotsky berpendapat bahwa alat
berfikirlah yang mampu membuat seseorang mampu memilih tindakan atau perbuatan
yang seefektif dan seefisien mungkin untuk mencapai tujuan.
Melalui alat berfikir setiap
individu mampu memperluas wawasan berfikir dengan berbagai aktivitas untuk
mencari dan menemukan pengetahuan yang ada di sekitarnya.
4. Melakukan
sesuatu sesuai dengan kapasitas alaminya.
Semakin banyak stimulus yang
diperoleh maka seseorang akan semakin intens menggunakan alat berfikirnya dan dia
akan mampu melakukan sesuatu sesuai dengan kapasitasnya.
Inti dari teori belajar sosiokultur ini adalah
penggunaan alat berfikir seseorang yang tidak dapat dilepaskan dari pengaruh
lingkungan sosial budayanya. Lingkungan sosial budaya akan menyebabkan semakin
kompleksnya kemampuan yang dimiliki oleh setiap individu.
Berdasarkan teori Vygotsky Yuliani (2005: 46)
menyimpulkan beberapa hal yang perlu untuk diperhatikan dalam proses
pembelajaran, yaitu :
1.
Dalam kegiatan pembelajaran hendaknya anak memperoleh
kesempatan yang luas untuk mengembangkan zona perkembangan proksimalnya atau
potensinya melalui belajar dan berkembang.
2.
Pembelajaran perlu dikaitkan dengan tingkat
perkembangan potensialnya dari pada perkembangan aktualnya.
3.
Pembelajaran lebih diarahkan pada penggunaan strategi
untuk mengembangkan kemampuan intermentalnya daripada kemampuan intramentalnya.
4.
Anak diberikan kesempatan yang luas untuk
mengintegrasikan pengetahuan deklaratif yang telah dipelajarinya dengan
pengetahuan prosedural untuk melakukan tugas-tugas dan memecahkan masalah
5.
Proses Belajar dan pembelajaran tidak sekedar bersifat
transferal tetapi lebih merupakan konstruksi
Pada
penerapan pembelajaran dengan teori belajar sosiokultur, guru berfungsi sebagai
motivator yang memberikan rangsangan agar siswa aktif dan memiliki gairah untuk
berfikir, fasilitator, yang membantu menunjukkan jalan keluar bila siswa
menemukan hambatan dalam proses berfikir, menejer yang mengelola sumber
belajar, serta sebagai rewarder yang memberikan penghargaan pada prestasi yang
dicapai siswa, sehingga mampu meningkatkan motivasi yang lebih tinggi dari
dalam diri siswa. Pada intinya, siswalah yang dapat menyelesaikan
permasalahannya sendiri untuk membangun ilmu pengetahuan.
Dapat
disimpulkan bahwa dalam teori belajar sosiokultur, proses belajar tidak dapat
dipisahkan dari aksi (aktivitas) dan interaksi, karena persepsi dan aktivitas
berjalan seiring secara dialogis. Belajar merupakan proses penciptaan makna
sebagai hasil dari pemikiran individu melalui interaksi dalam suatu konteks
sosial. Dalam hal ini, tidak ada perwujudan dari suatu kenyataan yang dapat
dianggap lebih baik atau benar. Vygotsky percaya bahwa beragam perwujudan dari
kenyataan digunakan untuk beragam tujuan dalam konteks yang berbeda- beda. Pengetahuan
tidak dapat dipisahkan dari aktivitas di mana pengetahuan itu dikonstruksikan,
dan di mana makna diciptakan, serta dari komunitas budaya di mana pengetahuan
didiseminasikan dan diterapkan. Melalui aktivitas,interaksi sosial, tersebut
penciptaan makna terjadi.
Menurut vygotsky Jalan pikiran seseorang dapat dimengerti
dengan cara menelusuri asal usul tindakan sadarnya dari interaksi sosial
(aktivitas dan bahasa yang digunakan) yang dilatari sejarah hidupnya.
Peningkatan fungsi-fungsi mental bukan berasal dari individu itu sendiri
melainkan berasal dari kehidupan sosial atau kelompoknya.
Kondisi sosial sebagai
tempat penyebaran dan pertukaran pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai
sosial budaya. Anak-anak memperoleh berbagai pengetahuan dan keterampilan
melalui interaksi sehari-hari baik lingkungan sekolah maupun keluarganya secara
aktif. Perolehan pengetahuan dan perkembangan kognitif sesuai dengan teori
sosiogenesis yaitu kesadaran berinteraksi dengan lingkungan dimensi sosial yang
bersifat primer dan demensi individual bersifat derivatif atau turunan dan
sekunder, sehingga teori belajar Vygotsky disebut dengan pendekatan
Co-Konstruktivisme artinya perkembangan kognitif seseorang disamping ditentukan
oleh individu sendiri secara aktif, juga ditentukan oleh lingkungan
sosialyangaktifpula.
Menurut Vygotsky
perkembangan kognisi seorang anak dapat terjadi melalui kolaborasi antar
anggota dari satu generasi keluarga dengan yang lainnya. Perkembangan anak
terjadi dalam budaya dan terus berkembang sepanjang hidupnya dengan
berkolaborasi dengan yang lain. Dari perspektif ini para penganut aliran
sosiokultural berpendapat bahwa sangatlah tidak mungkin menilai seseorang tanpa
mempertimbangkan orang-orang penting di lingkungannya.
Banyak ahli psikologi
perkembangan yang sepaham denga konsep yang diajukan Vygotsky. Teorinya yang
menjelaskan tentang potret perkembangan manusia sebagai sesuatu yang tidak
terpisahkan dari kegiatan-kegiatan sosial dan budaya. Ia menekankan bahwa
proses-proses perkembangan mental seperti ingatan, perhatian, dan penalaran
melibatkan pembelajaran dengan orang–orang yang ada di lingkungan sosialnya.
Selain itu ia juga menekankan bagaimana anak-anak dibantu berkembang dengan
bimbingan dari orang-orang yang sudah terampil di dalam bidang-bidang tersebut.
b. KONSEP
SOSIOKULTURAL
Ada 3 konsep penting dalam teori
sosiogenesis Vygotsky tentang perkembangan kognitif sesuai dengan revolusi
sosiokoltural dalam teori belajar dan pembelajaran yaitu genetic law of
development, zona of proximal development dan mediasi.
1. Hukum genetik tentang perkembangan
(genetic law of development)
Menurut Vygotsky, setiap
kemampuan seseorang akan tumbuh dan berkembang melewati dua tataran, yaitu
interpsikologis atau intermental dan intrapsikologis atau intramental.
Pandangan teori ini menempatkan intermental atau lingkungan sosial sebagai
faktor primer dan konstitutif terhadap pembentukan pengetahuan serta perkembangan
kognitif seseorang. Sedangkan fungsi intramental dipandang sebagai derivasi
atau keturunan yang tumbuh atau terbentuk melalui penguasaan dan internalisasi
terhadap proses-proses sosialtersebut.
2. Zona pekembangan proksimal (zone of
proximal development)
Vygotsky membagi
perkembangan proksimal (zone of proximal development) ke dalam dua tingkat:
1.
Tingkat perkembangan aktual yang tampak dari kemampuan
seseorang untuk menyelesaikan
tugas-tugas atau memecahkan berbagai masalah secara mandiri (intramental).
2.
Tingkat
perkembangan potensial tampak dari kemampuan seseorang untuk menyelesaikan
tugas-tugas dan memecahkan masalah ketika dibawah bimbingan orang dewasa atau
ketika berkolaborasi dengan teman sebaya yang lebih kompeten (intermental).
Jarak antara
keduanya, yaitu tingkat perkembangan aktual dan tingkat perkembangan potensial ini disebut zona perkembangan
proksimal. Zona perkembangan proksimal diartikan sebagai fungsi-fungsi atau
kemampuan-kemampuan yang belum matang yang masih berada
dalam,proses,pematangan.
3.Mediasi
Menurut Vygotsky, semua
perbuatan atau proses psikologis yang khas manusiawi dimediasikan dengan
psychologis tools atau alat-alat psikologis berupa bahasa, tanda dan
lambang,atau,semiotika.
Ada dua jenis mediasi, yaitu:
1.
Mediasi
metakognitif adalah penggunaan alat-alat semiotik yang bertujuan untuk
melakukan self- regulation yang meliputi: self planning, self monitoring, self
checking, dan self evaluating. Mediasi metakognitif ini berkembang dalam
komunikasi antar pribadi.
2.
Mediasi kognitif
adalah penggunaan alat-alat kognitif untuk memecahkan masalah yang berkaitan
dengan pengetahuan tertentu atau subject-domain problem.
Mediasi kognitif bisa berkaitan dengan konsep spontan (yang bisa salah)
dan konsep ilmiah (yang lebih terjamin kebenarannya).
C. PENGARUH
SOSIO-KULTURAL PADA PERKEMBANGAN KOGNISI
a.Pengaruh sosial pada perkembangan kognisi
Menurut Vygotsky, anak adalah
seorang eksplorer yang mempunyai rasa ingin tahu tinggi, sangat aktif dalam
pembelajaran, selalu ingin menemukan sendiri, dan mengembangkan pemahaman baru.
Namun demikian Vygostky lebih menekankan pada kontribusi sosial dalam proses
perkembangan dan tidak melihat peranan besar dalam penemuan sendiri. Perkembangan
pertama dalam lingkup sosial muncul dalam individu sebagai kategori
interpsikological dan kemudian pada anak sebagai kategori intrapsikologikal.
Contohnya adalah voluntary attention (perhatian otomatis), logical memory
(memori logis), pembentukan konsep, dan perkembangan kemampuan memilih.
Vygostky berpendapat
bahwa, pembelajaran pada anak terjadi melalui interaksi sosial dengan tutor
yang lebih berpengalaman, Tutor ini menjadi model dalam berperilaku atau
menyediakan instruksi verbal untuk anak. Model inilah yang disebut dengan
dialog kooperatif atau kolaboratif. Anak mencari pemahaman perilaku atau
instruksi dari tutor, menginternalisasi informasi dan menggunakannya untuk
memformulasikan perilaku mereka.
b.Pengaruh Budaya pada perkembangan kognisi
Vygotsky berpendapat bahwa perkembangan harus
dilihat dari perspektif 4 tahap yang saling berhubungan dalam interaksi anak
dengan lingkungan:
1.
Perkembangan Ontogenic, adalah perkembangan individu
sepanjang hayat, digunakan oleh hampir semua ahli psikologi dalam menganalisa
perkembangan manusia.
2.
Perkembangan Microgenic, mengacu pada perubahan yang
terjadi pada waktu yang relatif singkat, misalnya perubahan yang dapat dilihat
pada saat anak memecahkan masalah penjumlahan pada setiap minggunya selama 11
minggu (Siegler & Jenkins, 1989).
3.
Perkembangan
Phylogenic adalah perubahan yang berskala evolusi, diukur dalam ribuan dan
bahkan jutaan tahun. Vygostsky sendiri berpendapat bahwa untuk pemahaman
sejarah spesies dapat memberikan masukan pada perkembangan anak.
4.
Perkembangan Sociohistorical, mengacu pada perubahan
yang terjadi pada budaya, kepercayaan, norma, dan teknologi.
Disini Vygotsky menekankan
bagaimana seseorang berkembang dalam lingkungan yang berubah. Dengan berfokus
pada individu atau pun pada lingkungan tidak cukup untuk menjelaskan mengenai
perkembangan seseorang. Untuk itu perkembangan sebaiknya dipelajari dari
konteks sosial dan budaya.
Aplikasi teori sosio-kultural dalam pendidikan. Penerapan teori sosio-kultural
dalam pendidikan dapat terjadi pada 3 jenis pendidikan yaitu:
a. Pendidikan informal (keluarga)
Pendidikan anak dimulai dari
lingkungan keluarga, dimana anak pertama kali melihat, memahami, mendapatkan
pengetahuan, sikap dari lingkungan keluarganya. Oleh karena itu perkembangan
prilaku masing-masing anak akan berbeda manakala berasal dari keluarga yang
berbeda, karena faktor yang mempengaruhi perkembangan anak dalam keluarga
beragam, misalnya: tingkat pendidikan orang tua, faktor ekonomi keluarga,
keharmonisan dalam keluarga dan sebagainya.
b. Pendidikan nonformal
Pendidikan nonformal yang berbasis
budaya banyak bermunculan untuk memberikan pengetahuan, keterampilan, dan
perilaku pada anak, misalnya kursus membatik. Pendidikan ini diberikan untuk
membekali anak hal-hal tradisi yang berkembang di lingkungan sosial
masyarakatnya.
c.Pendidikan formal
Aplikasi teori sosio-kultural pada
pendidikan formal dapat dilihat dari beberapa segi antara lain:
1. Kurikulum
Khususnya untuk pendidikan di
Indonesia pemberlakuan kurikulum pendidikan sesuai Peraturan Menteri nomor 24
tahun 2006 tentang pelaksanaan KTSP, Peraturan Menteri nomor 23 tahun 2006
tentang standar kompetensi, dan Peraturan Menteri nomor 22 tahun 2006 tentang
standar kompetensi dan kompetensi dasar, jelas bahwa pendidikan di Indonesia
memberikan pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap kepada anak untuk
mempelajari sosiokultural masyarakat Indonesia maupun masyarakat internasional
melalui beberapa mata pelajaran yang telah ditetapkan, di antaranya: pendidikan
kewarganegaraan, pengetahuan sosial, muatan lokal, kesenian, dan olah raga.
2. Siswa
Dalam pembelajaran KTSP anak
mengalami pembelajaran secara langsung ataupun melalui rekaman. Oleh sebab itu,
pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap bukan sesuatu yang verbal, tetapi
anak mengalami pembelajaran secara langsung. Selain itu, pembelajaran
memberikan kebebasan anak untuk berkembang sesuai bakat, minat, dan
lingkungannya pencapaiannya sesuai standar kompetensi yang telah ditetapkan.
3. Guru
Guru bukanlah narasumber
segala-galanya, tetapi dalam pembelajaran lebih berperanan sebagai fasilitator,
mediator, motivator, evaluator, desainer pembelajaran dan tutor. Masih banyak
peran yang lain, oleh karenanya dalam pembelajaran ini peran aktif siswa sangat
diharapkan, sedangkan guru membantu perilaku siswa yang belum muncul secara
mandiri dalam bentuk pengayaan dan remedial pembelajaran.
Berdasarkan teori Piaget, Vygotsky, dan Bandura akan diperoleh beberapa
kelebihan dari teori sosiokultural, di antaranya:
a. Anak memperoleh kesempatan yang luas untuk mengembangkan zona
perkembangan proximalnya atau potensinya melalui belajar dan berkembang;
b. Pembelajaran perlu lebih dikaitkan dengan tingkat perkembangan
potensialnya daripada tingkat perkembangan aktualnya;
c. pembelajaran lebih diarahkan pada penggunaan strategi
untuk mengembangkan kemampuan intermentalnya daripada kemampuan intramental;
d. anak diberi kesempatan yang luas untuk mengintegrasikan
pengetahuan deklaratif yang telah dipelajarinya dengan pengetahuan prosedural
yang dapat dilakukan untuk tugas-tugas atau pemecahan masalah;
e. proses belajar dan pembelajaran tidak bersifat transferal
tetapi lebih merupakan kokonstruksi, yaitu proses mengkonstruksi pengetahuan
atau makna baru secara bersama-sama antara semua pihak yang terlibat di
dalamnya.\
Sedangkan kelemahan dari teori
sosiokultural yaitu terbatas pada perilaku yang tampak, proses-proses belajar
yang kurang tampak seperti pembentukan konsep, belajar dari berbagai sumber
belajar, pemecahan masalah dan kemampuan berpikir sukar diamati.